Feb 03, 2026

Publikasi

(Written in Indonesian because it makes more sense to do so. Though, I know what I wrote here can be applied to some other countries as well)

Ketika melihat persyaratan mendaftar atau promosi posisi akademis di Indonesia (dosen, dsb.), seringkali kita melihat persyaratan berikut

X publikasi di jurnal top sebagai penulis pertama

Dengan X berupa suatu angka tergantung posisi yang bersangkutan.

Dulu, ketika saya masih belum terlalu memikirkan dunia akademis (baca: ketika S1), saya tidak terlalu memikirkan kalimat tersebut. Rasanya normal. Publikasi ilmiah kan memang di jurnal, dan penulis pertama itu yang kontribusinya paling banyak.

Sekarang, ketika saya di penghujung S3 saya, saya cuma bisa meringis geli membaca persyaratan itu. Ada dua poin yang membuat reaksi saya begitu: jurnal dan penulis pertama. Untuk konteks, riset saya di bidang theoretical computer science (TCS). Garis besarnya, hal-hal teoretis dan fundamental di ilmu komputer.


Jurnal

TL;DR: di beberapa bidang seperti ilmu komputer, publikasi konferensi juga sama pentingnya untuk posisi akademis di luar negeri

Secara umum, di ilmu komputer ada dua cara melakukan publikasi ilmiah:

  • Jurnal: biasanya review-nya lebih men-detail, dan lebih memakan waktu. Bisa sampai hitungan tahun.
  • Konferensi: biasanya review-nya lebih ringkas, dan lebih cepat. Biasa prosesnya hanya beberapa bulan.

Kalau melihat luarnya, bisa dilihat kalau kualitas publikasi di jurnal (yang benar) akan lebih baik dari kualitas publikasi di konferensi (apapun). Sebagai contoh, hampir semua publikasi yang saya baca pasti ada bug (kesalahan)-nya. Di jurnal biasa sedikit dan tidak fatal, sementara di konferensi biasa lebih banyak dan kadang fatal. Namun, tidak terlalu masalah karena umumnya, masih bisa diperbaiki sendiri.

Dari segi kualitas, saya rasa masih cukup masuk akal kalau kita menaruh nilai lebih di publikasi jurnal.

Namun, kalau begitu, buat apa ada konferensi?

Di beberapa bidang, perkembangannya itu cepat sekali. Contohnya di machine learning (yang merupakan area dalam ilmu komputer). Perkembangannya sangat cepat, sehingga biasanya, state-of-the-art akan berubah dalam hitungan bulan. Apalagi sekarang banyak sekali lab yang bekerja di area ini. Dalam hal ini, publikasi jurnal tidak bisa mengikuti kecepatannya; sehingga, masuk akal kalau banyak publikasi yang masuk ke konferensi yang siklusnya lebih pendek. Bahkan, karena banyak yang mengirimkan ke konferensi, konferensi malah jadi sama atau lebih prestisius dibanding jurnal. Dan ini tidak terbatas di machine learning saja. Setidaknya, di bidang ilmu komputer, saya tahu kalau banyak area yang juga fokus ke konferensi.

Oleh karena itu, tidak jarang ketika mendaftar posisi akademis untuk bidang ilmu komputer di luar negeri, publikasi konferensi juga sama pentingnya. Dan yah, publikasi saya juga hampir semuanya konferensi saja.

(Tentunya, akan lebih baik apabila setelah konferensi, juga publikasi lewat jurnal. Namun, sistem sekarang kurang memberi insentif untuk melakukan hal ini)

journalneat

Di beberapa bidang, bahkan kurang minat untuk publikasi ke jurnal

Sedikit anekdot terkait publikasi jurnal. Di Indonesia, seringkali ada fokus untuk publikasi di "jurnal terindeks Scopus". Pertama kali kata Scopus muncul di pembicaraan saya dengan pembimbing S3 saya adalah di tahun kelima saya, dan itupun karena kami membicarakan iklim riset di Indonesia. Setidaknya di tempat saya S3 (NUS) dan komunitas riset bidang saya, orang-orangnya tidak terlalu tertarik dengan hal tersebut. Fokusnya biasa ke konferensi dan jurnal top (top di sini tidak ada hubungannya sama sekali dengan Scopus).


Penulis Pertama

TL;DR: ada banyak konvensi urutan penulis, dan tidak semua memiliki konsep penulis pertama

Saya ingat ketika diajari tentang penulisan ilmiah, penulis pertama itu yang kontribusinya paling tinggi.

Sementara itu, kalau melihat publikasi saya selama S3 (2021-2026), saya selalu jadi penulis kedua.

Mungkin, reaksi saya yang dulu melihat saya yang sekarang, "ini orang gagal kali ya" (tidak sepenuhnya salah).

Namun, kalau dicermati, di publikasi-publikasi saya yang penulisnya kurang lebih sama, urutannya akan sama. Dan ini bukan kebetulan. Kami memang menggunakan urutan alfabetis nama belakang. Alasannya? Karena itu konvensi yang dipakai di TCS. Alasan kenapa konvensinya seperti itu kurang lebih sama dengan di bidang matematika. Umumnya, hasil riset teoretis itu hasil diskusi kompleks dari penulisnya, dan cukup sering hasil akhirnya itu merupakan perkembangan dari hasil-hasil selama prosesnya (yang mungkin saja tidak muncul di publikasinya). Dalam hal ini, tidak mungkin menentukan siapa yang paling banyak berkontribusi, jadi semua dianggap berkontribusi sama. Misalnya, saya menemukan hasil awal yang meng-kickstart proyek risetnya. Kemudian, penulis lain menemukan hasil yang lebih bagus. Atau, ada penulis lain yang mencetuskan ide yang kemudian saya kembangkan menjadi hasil yang lebih bagus. Sulit menentukan siapa yang paling banyak berkontribusi, dan ini bisa menjadi bias.

Sebelum ada yang bilang saya bias karena nama belakang saya huruf belakangnya "D", seperti yang saya sebut sebelumnya, selalu saja ada penulis lain yang nama belakangnya lebih depan dari saya. Jadi saya tidak diuntungkan juga selama ini.

Namun, bukan berarti menggunakan urutan alfabetis itu yang paling bagus. Di bidang yang banyak eksperimen-nya, masih masuk akal untuk menggunakan konvensi penulis pertama. Kalau di luar negeri, ketika melihat publikasi, disesuaikan juga ekspektasinya dengan konvensi di bidang yang bersangkutan. Di CV juga kadang dicantumkan mengenai konvensi yang digunakan dalam urutan penulis. Intinya sih, biasanya disesuaikan per bidang.

everyauthor



Penutup

Pada akhirnya, persyaratan publikasi itu wajar ada. Toh, pekerjaan utama di akademis itu melakukan riset dan mengajar. Persayaratan ini juga seperti game yang mesti disesuaikan oleh pemain-nya.

Hanya saja, saya rasa lebih baik kalau game-nya juga disesuaikan persyaratan di pasar akademis global. Misal ilmu komputer, bisa dilihat publikasi konferensinya juga. Misal untuk promosi di bidang yang konvensinya menggunakan penulis pertama, bisa dilihat juga publikasi sebagai penulis terakhir (biasanya untuk penulis senior). Dan sebagainya.

Menggunakan satu standar untuk semua bidang memang mempermudah, tapi mestinya dipahami juga kalau ada macam-macam standar.